“Bendera…siap!!!” ucap salah seorang pengibar.

“Hiduplah Indonesia Raya…1..2..!!! “Pemimpin lagupun mulai menggoyangkan tangannya pertanda mulainya lagu sekaligus tanda naiknya bendera. Tak lama kemudian                    “Tegak…!!Grak!” ucap seorang pemimpin upacara.

Upacara ini bukan upacara sembarangan.Upacara ini adalah upacara yang di liput oleh berbagai media,dan diikuti pula oleh pejabat – pejabat Negara,bahkan hadir pula orang nomor satu dinegri ini,yaitu Bp.Susilo Bambang Yudoyono. Memang,karna upacara ini bertempat di Istana Merdeka.

Setelah Faiz sang penarik bendera,Ryn sang pembawa baki dan Rama sang pengibar bendera kembali ke barisan para pasukan pengibar bendera yang berjumlah 45 orang,para pasukan pun kembali ke tempat semula. Upacara pun berlangsung khidmat dari awal sampai akhir. Setelah upacara selesai tiga orang pengibar pun berfoto bersama para pejabat dan para pengibar yang lain. Memang menjadi pengibar bendera di Istana Merdeka adalah mimpi Ryn dari dulu.

Setelah selesai foto bersama Bp.President,Ryn mendekati mawar,sahabatnya.

“Ryn selamat yah…tadi kalian keren banget” Mawar memuji.

“makasih…ini juga berkat dukungan kamu kok…” jawab Ryn.

“Ryn…” tiba tiba ada seorang yang menyapa. “Rama…” ucap Ryn.

Ternyata dia adalah Rama dan dibelakangnya Nampak Faiz tersenyum paa Ryn dan Mawar.

“makasih atas kerja samanya…” Ucap Rama sang pengibar. “sama sama.ini semua juga berkat kerjasama kita semua” Jawab Ryn dengan bijaksana. “Ryn pulang sama siapa…?” Tanya Faiz tiba tiba. Ryn menggeleng. “pulang bareng yuk…!!!” ajak Faiz. “gimana  kalau sama aku aja!” tiba tiba Rama menimpali. Ryn menatap Rama dan Faiz. Suasana hening sejenak. Ryn menatap Mawar.

“Aduh jadi bingung deh…!” ucap Mawar dengan nada menggoda.

“aku pulang sama mawar aja” jawan Ryn.

“yah…Ryn” ucap Faiz setengah kecewa,”ya udah deh aku duluan.” Ucap Faiz sambil berlalu.

Sementara Rama masih berdiri menatap Ryn.

“khmmm!!!kamu Rama kan?” Tanya Mawar. Rama tersenyum ramah.

“kenapa kamu masih di sini..?” Tanya Mawar.

Rama hanya tersenyum menatap Ryn dan berlalu tanpa kata kata. Dan sebenarnya hati Ryn begitu bahagia,karna seorang Rama yang selalu menjadi buah bibir anggota paskibra karena ketampanan dan sikap dinginnya itu,Rama yang selama ini Ryn harapkan,seolah memberikan harapan itu.

Sampainya dirumah,para tetangganya menatap Ryn dengan tatapan yang berbeda. Tapi kebanyakan dari mereka menatapnya dengan kagum.

“Tok..tok..tok…Assalamu’alaikum…” ucap Ryn

“wa’alaikum salam..” jawab dari dalam

“Mamah…!!” ucap Ryn sambil cium tangan.

“Ryn..anakku…” ucap mamahnya dengan linangan air mata bangga. Begitu pun dengan ayahnya. Ryn pun tak kuat menahan haru.

“kenapa kamu gak pernah cerita?maafin ayah nak,ayah sempak tidak percaya kalau kamu latihan ekskul sampai larut malam,ternyata kamu tidak bohong.” Tutur sang ayah dengan mata berkaca.

“maaf ayah…Ryn Cuma pengen bikin kejutan buat orang orang yang udah saying dan percaya sama Ryn.” Jawab Ryn. Tiba tiba ada suara dari luar.

“Assalamu’alaikum…the Ryn…” ucap seseorang.

“Wa’alaikum salam…” jawab Ryn. Ternyata diluar sudah  banyak orang yang ingin mengucapkan selamat, bahkan ada beberapa wartawan yang ingin mewawancarai. Saat Ryn di Tanya tentang perasaannya dia menjawab “Saya merasa sangat puas,karena sudah bisa membanggakan orang tua saya. Dan yang paling membuat saya puas adalah saya sudah berhasil menunjukan pada orang orang kalu saya bisa lebih baik dari yang mereka pikir.” Jawab Ryn dengan lantang.

Dan tiba tiba “Kriing…Kriing..Kriing…” suara jam beker berbunyi.

“Astagfirullah…” Ryn terjaga dari mimpinya dan mematikan bekernya.

“oh Tuhan.. Mimpi…” bisiknya dalam hati.

Dia menatap keluar jendela,kicau burung burung pagi dan kokok ayam seolah menertawakannya. Tanpa ia sadari air mata pun berjalan diatas pipinya. Dengan lirih dia berbisik      “ini hanya mimpi…sebatas mimpi… Istana Merdeka, President, para pejabat itu, dan Rama… hah..mana mungkin aku kenal Rama Prahara Sakti,yang jelas pengibar bendera,mana mungkin orang seperti aku bisa mendapatkan semua itu,ini semua mimpi. Mimpi yang takkan pernah menjadi kenyataan. “ ucap Ryn sambil menyeka air mata.