Di bawah terik matahari,di tengah tengah keramaian kota Jakarta,ada seorang anak berpakaian compang camping sedang menngerakan alat musiknya yang terbuat dari tutup botol minuman dan potongan kayu yang biasa di sebut kecrek sambil bernyanyi di setiap lampu merah,hasilnya memang tidak seberapa asalkan dapat makan sekalipun sudah lebih dari cukup. Hampir setiap hari jono mengamen,dia tinggal di gubuk yang terbuat dari kardus dan tenda bekas,jika hujan turun harus selalu tersedia ember  untuk menampung air yang turun dari atap yang bocor. Jono tinggal bersama dengan ibunya yang sudah tua renta,ayahnya meninggal saat jono masih dalam kandungan,ayahnya meninnggal karena sakit keras.

Siang itu jono akan menuju ke warteg untuk membeli makan untuk ibunya tapi ketika di gang kecil jono bertemu dengan preman yang sedang nongkrong sambil meminum minuman keras,kemudian preman itu menghentikan perjalanan jono.

“Hey anak kecil!!mau kemana kamu ?” Tanya seorang preman sinis. Jono hanya terdiam ketakutan,sang preman mendekati jono dan merampas uang yang sedang di genggamnya untuk membeli nasi.

“serahkan uangmu!!” paksa sang preman. Jono segera menyembunyikan uangnya dan berusaha untuk melarikan diri tetapi usahanya gagal,semua uangnya terampas,preman preman itu meninggalkan jono yang sedang menangis.

Jono tak berputus asa dia mengamen agar mendapatkan uang lagi. Ketika jono sedang bernyanyi lagu ciptaannya ada yang memanggil dari arah belakang tapatnya di dalam sebuah mobil sedan biru.

“adik kecil,kemarilah!!” panggil seseorang dalam mobil itu.

“saya pak..???” jono bertanya

“iya,kamu.” Ujar seseorang itu. Jono pun mendekatinya.

“adik namanya siapa?” Tanya bapak dalam mobil itu.

“nama saya jono…ada yang bisa saya bantu?” Tanya jono heran.

“saya Chandra,saya ingin mendengarkan lagu yang tadi adik nyanyikan,lagunya bagus dan suaramu pun sama bagusnya.” Pinta pak Chandra. Jono pun bernyanyi sambil menggerakan kecrek andalannya. Bapak Chandra memberikan uang lima puluh ribu dan sebuah kartu nama.

“Lusa datang ke alamat ini ya,saya ingin bicara dengan Jono lebih lama.” Ujar pak Chandra.

Pak Chandra adalah produser rekaman. “insya allah saya akan dating pak..” jawab Jono. “baik saya tunggu kedatanganmu.” Sambil tersenyum. Tak lama lampu hijau pun menyala tandanya kendaraan mulai melaju,Jono segera pergi ke warteg untuk membeli nasi dengan uang yang di berikan pak Chandra,setelah itu Jono pulang dengan riang gembira. Setelah sampai rumah jono memanggil ibunya.

“ibu..ibu..Jono pulang.” Panggil Jono setengah berteriak.

“iya saying,ibu di dapur nak..” ujar ibu lemas.”

“ibu,jono bawa makanan buat ibu.” Ucap jono seraya berlari menuju dapur.

“dari mana kamu dapat uang ini nak ?” Tanya ibu heran.

“tadi pada waktu ngamen ada bapak bapak meminta jono untuk bernyanyi,dan ternyata bapak bapak itu tertarik dengan suara dan lagu yang jono buat lalu bapak bapak itu memberi jono uang sebesar lima puluh ribu rupiah dan sebuah kartu nama,dan lusa jono di minta untuk datang kealamat itu.” Jelas jono sambil memberikan kartu nama itu pada ibunya.

“siapa nama bapak itu?” Tanya ibu kemudian.

“namanya bapak Chandra..bu ayo kita makan.” Ujar jono sambil menahan rasa lapar. Kemudian Jono dan ibu pun makan bersama walaupun dengan telor dadar dan nasi putih,itu pun sudah lebih dari cukup. Keesokan harinya jono kaget ketika melihat di bawah ranjang tidurnya penuh dengan air,ternyata daerah tempat jono tinggal terendam banjir. Jono mencari ibunya.

“ibu…ibu…banjir..!!! ibu di mana ?” rintih jono.

“ibu di sini nak sedang menyalamatkan barang barang kita.” Ujar ibu

“ibu…sini jono bantu.” Ujar jono.

“cepat nak kemasi barang barangnya dan segera pergi karna ketinggian air akan semakin meningkat. Jelas ibu tergopoh gopoh. Setelah mereka mengemasi barang barang mereka,kemudian mereka bergegas meninggalkan tempat tinggal mereka. Ketika di perjalanan jono baru sadar bahwa kartu nama pak Chandra hilang sepertinya terendam banjir,padahal jono besok harus datang ke alamat yang ada di kartu nama itu. Tapi jono hanya bisa pasrah. Mereka mengungsi ke tempat pengungsian yang telah disediakan oleh pemerintah. Setelah sampai pengungsian jono bertanya pada ibunya

“ibu kapan yah jono bisa menjadi penyanyi yang terkenal..dan kenapa sih nasib hidup kita selalu begini?” Tanya jono seraya meneteskan air mata.

“suatu saat nanti jono pasti bisa menjadi penyanyi yang terkenal,mungkin ini memang takdir kita jadi orang miskin..sabar yah nah..terima apa adanya..” ibu menasehati jono kemudian memeluknya.

Siang itu Jono mengamen dengan penuh semangat berharap bertemu dengan pak Chandra (produser rekaman),dan ternyata benar jono nertemu dengan pak Chandra, pak Chandra memanggil jono agar mendekati mobilnya..tapi ketika jono sedang menyebrang jalan ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan tiba tiba…”braaakkk…” seketika tubuh jono terpental sangat jauh. Akan tetapi mobil yang menabrak jono melarikan diri. Para warga berbondong bonding mendekati tubuh jono yang tergeletak lemas,dan pak Chandra pun keluar dari mobilnya mendekati jono. Lalu pak Chandra membawa jono ke rumah sakit..

Kemudian ada seorang anak yang memberitahukan kepada ibu jono bahwa  jono mengalami kecelakaan dan dirawat dirumah sakit..akan tetapi semuanya sudah terlambat ketika ibu jono sampai di rumah sakit ternyata jono sudah tiada..jono menghembuskan nafas terakhirnya.. semuanya begitu menyakitkan bagi ibu jono..

“maafkan saya bu..ini kesalahan saya andai saja saya tidak menyuruh jono untuk mendekati saya,mungkin sekarang jono masih berada disini bersama ibu..” ujar pak Chandra dengan penuh rasa sesal. Ibu meneteskan air matanya sambil memeluk jono.

“jono kenapa tinggalin ibu? Ibu tidak mau kehilanganmu nak, jangan pergi.. ibu sayang jono.

“sabarlah bu..mungkin ini sudah menjadi takdir untuk jono..do’akan saja agar jono di tempatkan di sisi Allah SWT dan di jadikan kekasih abadinya..” ucap pak Chandra menenangkan.

“selamat jalan nak…ibu selalu menyayangimu..”rintih ibu…